Oleh : bappedagianyar | 14 Februari 2020 | Dibaca : 272 Pengunjung
Indonesia merupakan Negara Mega Biodiversitas kedua setelah Brasil yang memiliki beragam kekayaan alam baik Flora dan Fauna. Biodiversitas Flora dan Fauna adalah kekayaan alam yang memiliki nilai tinggi sebagai sumber daya hayati. Demikian pula halnya dengan Bali yang memiliki barbagai keragamaan Plasma Nutfah dan beberapa di antaranya ada dalam status kritis. Plasma Nutfah Sapi putih yang ada di Bali belum banyak diketahui oleh masyarakat Indonesia. Sapi ini populasinya tidak banyak dan hanya di pelihara di tempat tertentu yaitu Desa Taro Kaja, Kecamatan Tegalalang, Kabupaten Gianyar. Sampai saat ini struktur populasinya terdiri dari 3 ekor pedet, 27 ekor pejantan dan 22 ekor betina yang keseluruhan berjumlah 52 ekor yang menyebar di sekitar Desa Taro. Untuk mengantisipasi ancaman kepunahan tersebut, maka diperlukan upaya serius untuk meningkatkan dan mempertahankan populasi tersebut sampai 100 ekor betinanya, jika jumlah betina kurang dari 100 ekor di kategorikan sebagai kelompok ternak kritis atau terancam punah.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk dapat mengantisipasi kepunahan maka hal-hal yang perlu di perhatikan antara lain konservasi sumberdaya air, konservasi situs/peninggalan sejarah, konservasi kawasan hutan taro dan faunanya, daya dukung tanaman pakan, daya dukung sumber daya manusia, faktor internal, faktor eksternal, dan faktor pendukung pengembangan sapi taro. Manajemen sapi taro seperti pakan, kandang dan sanitasi juga perlu di perhatikan. Jenis pakan mulai bulan Juni 2019 rumput gajah berkurang dan diberikan rumput lapangan termasuk daun bambu, batang pisang yang diusahakan oleh Manajemen (pihak pemeliharaan). Ketika memasuki musin kering yakni bulan Juni, Juli, Agustus, September dan Oktober ketersediaan pakan hijau yaitu rumput gajah mulai berkurang dan para pekerja mencarikan pakan tambahan dengan menyabit rumput atau hijauan pohon lainya di sekitar kawasan Sapi Taro.
Daya dukung lingkungan sangat menunjang pengembangan Desa Taro sebagai salah satu Desa Wisata di Kabupaten Gianyar. daya dukung pakan dalam hal jumlah dan kualitasnya akan mengalami tekanan yang semakin berat mengingat perkembangan kependudukan, penggunaan lahan, dan peningkatan jumlah sapi taro. Sangat diperlukan sebuah strategi yang bijak untuk pengembangan dan pelestarian sapi taro ke arah populasi minimal kategori tidak kritis. Daya dukung tanaman pakan dan daya dukung sumberdaya manusia serta mengurangi barrier reproduksi sangat diperlukan untuk menjamin keberlanjutan Sapi Taro. Perlu disiapkan sebuah rencana pengembangan sapi taro sebagai salah satu sumber plasma nutfah asli Indonesia. Semua tantangan di atas akan dapat diatasi dengan keterlibatan berbagai pemangku kepentingan dan Pemerintah Kabupaten Gianyar.
Oleh : bappedagianyar | 14 Februari 2020 | Dibaca : 272 Pengunjung
Rencana Induk Kelitbangan Pemerintah Kabupaten Gianyar Tahun 2018-2023
934KAJIAN PEMBENTUKAN UNIT USAHA AIR MINUM DALAM KEMASAN PDAM KABUPATEN GIANYAR
569Kajian Toko Modern di Kabupaten Gianyar
2008Penyusunan Studi Kelayakan TPA Temesi
662SURVEY OPINI PUBLIK TENTANG KINERJA PEMERINTAH KABUPATEN GIANYAR